Jakarta - Tugas utama birokrasi adalah melayani masyarakat. Urusan pelayanan nomor satu, seperti misalnya pelayanan KTP atau akte lahir. Dan mungkin daerah lain bisa mencontoh Purwakarta untuk urusan ini.
Seperti dituturkan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Senin (24/8/2015). Urusan pelayanan pada masyarakat nomor satu. Karenanya Pemkab Purwakarta menyediakan beberapa mobil layanan keliling untuk urusan KTP, Kartu Keluarga, akte kelahiran, pencatatan pernikahan untuk non muslim, dan lainnya.
"Kita punta beberapa unit mobil dan pelayanan yang diberikan tanpa biaya," urai Dedi.
Dia juga menjelaskan, mobil pelayanan keliling ini beredar di wilayah Purwakarta, mulai dari pusat perbelanjaan sampai ke pelosok desa.
"Ini untuk pelayanan kependudukan, memudahkan masyarakat. Bila syarat-syarat lengkap 30 menit selesai," tutup dia.
Bagaimana dengan daerah lain, sudah melayani masyarakat?
(dra/dra)
Asal Nama Nganjuk
Posted on 10 Juni 2013 by Pusaka Jawatimuran
Dari Pilangbangu , Jogomerto untuk pelosok negri
Karya Sains Putra Pilangbangu 100 % original Design
Menurut cerita rakyat yang masih hidup dikalangan penduduk setempat. bahwa desa tempat didirikannya Candi Lor dahulu bernama Desa Nganjuk, yang berasal dari kata “ANJUK”. Tetapi setelah Nganjuk dipergunakan untuk nama daerah yang lebih luas, maka nama desa tersebut diubah namanya menjadi “Tanggungan”. Tanggungan berasal dari kata “Ketanggungan” (Jawa : mertanggung). Istilah ini mengandung makna, bahwa nama Nganjuk tanggung untuk digunakan sebagai nama dari desa tersebut karena sudah digunakan nama bagi daerah yang lebih luas. Oleh karena itu sudah tidak berarti lagi (tanggung atau mertanggung) desa sekecil itu disebut Nganjuk.
Mengenai arti dan makna dari kata : Anjuk Ladang, Prof Dr. J.G. de Casparis menjelaskan sebagai berikut :
Anjuk : berarti tinggi, tempat yang tinggi atau dalam arti simbolis adalah : mendapat kemenangan yang gilang gemilang. Ladang : berarti tanah atau daratan.
Dari latar belakang sejarah dapat diinterpretasikan bahwa Nganjuk dahulu diambil dari nama sebuah tempat atau desa : Anjuk Ladang. Yang karena memiliki nilai sejarah tentang kepahlawanan prajurit prajurit dibawah pimpinan Pu Sindok dapat menaklukkan bala tentara dari kerajaan Sriwijaya, maka kemudian “Nganjuk” diabadikan sebagai Nama Daerah/Wilayah yang lebih luas dan tidak hanya nama sebuah desa kecil, yakni Kabupaten Nganjuk yang sekarang ini. Nganjuk yang diambil dari kata Anjuk berarti “Kemenangan dan Kejayaan”.
Selain keterkaitan yang berlatar belakang sejarah sebagaimana telah dikemukakan diatas, hubungan kata Anjuk dengan nama : Nganjuk dapat dijelaskan dari sudut perkembangan bahasa. Perubahan kata : Anjuk menjadi kata : Nganjuk merupakan hasil proses perubahan morphologi bahasa, yang menjadi ciri khas dan struktural bahasa Jawa. Perubahan kata dalam bahasa Jawa ini terjadi karena :
Gejala usia tua (waktu) ;
Gejala informalisasi ;
disamping adanya kebiasaan menambah konsonen sengau “NG” (nasalering/Belanda) pada lingga kata yang diawali dengan suara Vokal. Nada “NG” menunjukkan : Tempat. Contoh :
Aliman menjadi Ngaliman
Amarta menjadi Ngamarta
Asem menjadi Ngasem
Astina menjadi Ngastina
A w i menjadi Ngawi
Ujung menjadi Ngujung
Omben menjadi Ngomben
Dengan demikian jelas kiranya bahwa Nganjuk yang berasal dari kata Anjuk berarti suatu tempat : Kemenangan dan Kejayaan.
Dibentuk pada 22 Agustus 2012 oleh Jemi Ngadiono, komunitas 1000 guru kini semakin banyak berdiri di berbagai regional. Termasuk Regional Gorontalo yang baru terbentuk di awal tahun ini turut merayakan HUT 1000 Guru yang ke-4. 1000 Guru Gorontalo
merayakannya dengan berpartisipasi dalam kegiatan .traveling and teaching (TnT) ke-2 di Desa Mutiara Laut Kec. Tomilito Kabupaten Gorontalo Utara. Dari 53 peserta yang mendaftar, akhirnya terpilihlah sebanyak 14 orang volunteer untuk mengajar 50 siswa di SDN 3 Tomilito pada tanggal 19-21 Agustus 2016. Peserta TnT 2 kali ini selain dari Gorontalo juga ada yang berasal dari Tim 1000 Guru Pusat dan 1000 Guru Manado. Ditambah lagi, ada sebanyak 4 orang volunteer yang berprofesi sebagai dokter sebagai tim medis.
Kegiatan TnT 2 kali ini berbeda dengan TnT 1. Jika kegiatan TnT 1 seluruh tim dan volunteer menginap di sekolah, maka kegiatan kali ini mengharuskan Tim dan Volunteer berjalan kaki sejauh 10 Km untuk menuju sekolah. Lokasi kegiatan kali ini berada di daerah pesisir. Lokasi menginap di rumah warga yang ada di Dusun Labuan Dolong, sementara SDN 3 Tomilito berada di lokasi yang berjauhanyaitu di Desa Mutiara Laut. Selesai melakukan sarapan pagi, tim dan volunteer bergegas menuju SDN 3 Tomilito. Untuk menuju sekolah di pagi hari saat air laut pasang, sebenarnya bisa dilalui dengan speedboat. Tapi kami ingin merasakan bagaimana pengalaman adik-adik melewati perjalanan menuju sekolah. Tak disangka, medan yang ditempuh adalah hutan, bukit dengan batuan yang terjal, serta hamparan pasir putih di pinggir pantai. Bagi kami yg terbiasa hidup di kota, mungkin akan mengalami kesulitan melewati bebatuan dan bukit yang cukup terjal selama perjalanan. Namun berbeda dengan para siswa yang dengan lincahnya melompat dari satu batu ke batu yang lain dan meninggalkan kami di belakang.
Rasa lelah dan panas karena sergapan matahari kami rasakan di sepanjang perjalanan. Namun begitu sampai di sekolah dan bertemu dengan adik-adiknya yang sangat semangat menyambut kehadiran tim 1000 guru gorontalo, rasa lelah pun sirna begitu saja. Kami bergegas melanjutkan kegiatan mengajar, bermain games dan pemberian donasi. Pada kegiatan TnT 2 kali ini kami memberikan 50 pasang seragam olahraga, karena selama ini mereka menggunakan pakaian bebas ketika pelajaran olahraga. Selain itu kami melakukan kegiatan sikat gigi bersama dipandu oleh tim medis. Ada cerita mengharukan di kegiatan ini, para siswa terlihat sangat senang saat kami memberikan sikat gigi. Ternyata masih banyak siswa yang belum memiliki sikat gigi. Yang artinya, selama ini mereka tidak pernah sikat gigi. Memang harus diakui bahwa kondisi sanitasi warga sekitar masih cukup memprihatinkan. Belum adanya kesadaran masyarakat untuk membangun fasilitas MCK yang layak.
Selesai kegiatan, kami melakukan sesi foto bersama dengan adik-adik menggunakan balon berwarna merah dan putih Saat pulang sekolah, air laut sudah surut sehingga kami bisa berjalan menuju rumah warga dengan menyusuri pinggir pantai. Sesampainya di Dusun Labuan Dolong, kami mengadakan medical check up untuk para warga. Lokasi unit layanan kesehatan yang jauh dari warga membuat sebagian besar para warga mengobati penyakitnya dengan cara tradisional. Bahkan untuk proses persalinan, para warga mengandalkan dukun beranak setempat dibandingkan harus ke unit layanan kesehatan. Setelah kegiatan medical check up, hampir semua warga berkerumun di lapangan untuk menyaksikan keramaian dan riuh suara teriakan. Bagaimana tidak, karena sore itu ada kegiatan lomba untuk ibu-ibu dalam rangka HUT RI ke-71. Dalam setiap permainan dituntut kekompakkan dan kebersamaan dari masing-masing anggota yang terdiri dari ibu-ibu, tim dan volunteer 1000 Guru Gorontalo. Seakan belum puas bermain, adik-adik mengajak seluruh tim dan volunteer untuk ‘mandi’ di laut. Tidak ada satu orang pun yang luput dari kegiatan ini, karena jika ada yang tidak mau nyebur ke pantai dengan alasan apapun akan ada tim yang menggendong paksa dan menceburkannya ke pantai.
Keesokan harinya kami melakukan travelling ke 3 pulau, yaitu Pulau Lampu, Pulau Mohinggito dan Pulau Saronde. Keindahan pulau-pulau yang ada di Kabupaten Gorontalo Utara ini sangat memikat. Di Pulau Lampu, kami terpukau oleh pasirnya yang berwarna putih dan kemerah-merahan serta gradasi warna air lautnya mulai dari hijau toska, biru muda dan biru tua. Selanjutnya santap siang kami lakukan di Pulau Mohinggito dengan beralaskan daun pisang tanpa piring dan sendok garpu. Dan Pulau terakhir yang kami kunjungi adalah Pulau Saronde, pantai dengan airnya yang jernih dihiasi banyak bintang laut di dasar pasirnya. Dan dengan berat hati kami harus meninggalkan warga Dusun Labuan Dolong. Saat kapal mulai dijalankan, seluruh adik-adik dan warga melambaikan salam perpisahan untuk kami dari kejauhan. Ibu Kepala Dusun pun terlihat menghapus air matanya. Sungguh berkesan kegiatan TnT 2 1000 Guru Gorontalo. Dari kegiatan ini kita harus belajar dari mereka dengan segala keterbatasan yang dimiliki, mereka tidak kehilangan rasa semangatnya untuk terus menempuh pendidikan. Tugas kita lah untuk terus memupuk semangat mereka dalam menggapai impian mereka demi masa depan bangsa yang lebih baik. Selamat Ulang Tahun ke-4 untuk 1000 Guru!